Mark Zuckerberg Dulu Dipuja Kini Orang Paling Berbahaya

Iklan 728x90

Mark Zuckerberg Dulu Dipuja Kini Orang Paling Berbahaya

Jakarta - Sebagai CEO dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg merupakan figur yang selalu menarik perhatian. Rasanya belum lama ia begitu dipuja tapi kini makin banyak tuduhan miring dialamatkan kepadanya.

Oleh beberapa publikasi seperti Vanity Fair dan New Statesman, Zuck pernah menempati posisi tinggi sebagai orang paling berpengaruh di dunia. Ia bahkan menjadi CEO paling populer di Amerika Serikat pada tahun 2016, mengalahkan CEO Apple Tim Cook dan CEO Amazon Jeff Bezos.

Terlebih lagi, dia masih sangat muda, namun prestasinya luar biasa dan selalu masuk jajaran orang terkaya di dunia. Saat ini pun, dia baru 35 tahun.

Namanya makin harum seiring janji mendonasikan 99% saham Facebook kepunyaannya melalui yayasan Chan Zuckerberg Initiatives, bertepatan dengan kelahiran anak pertama pada akhir 2015. Pelepasan saham akan dilakukan bertahap sepanjang ia hidup.

Inisatif Mark Zuckerberg aktif di kemanusiaan sejak usia sangat muda pun diapresiasi banyak kalangan. Biasanya miliuner baru banyak menyumbang setelah beranjak tua. "Dengan memulai dari usia muda, kami berharap bisa melihat manfaatnya selama masih hidup," kata Mark Zuckerberg.

Pada tahun 2016, popularitasnya masih moncer. Kala itu, ia bersama istri Priscilla Chan berkeliling ke banyak negara bagian Amerika Serikat untuk bergaul dengan warga kebanyakan. Banyak pihak menduga Mark Zuckerberg berkeinginan jadi presiden, tapi ia membantahnya.

Anjloknya Popularitas

Namun, seiring dengan semakin banyaknya kontroversi yang mendera Facebook, citra Mark Zuckerberg terkena dampaknya. Paling menghantam adalah skandal kebocoran data Facebook oleh pihak ketiga yaitu Cambridge Analytica. Kasus ini ditengarai berkontribusi mempengaruhi hasil pemilihan Presiden AS tahun 2016.

Dalam survei yang dilakukan Public Policy Polling untuk Factual Democracy Project pada Maret 2018, setelah terjadinya skandal Cambridge Analytica, hanya 24% responden yang memiliki opini yang positif terhadap Mark Zuckerberg.

Turunnya popularitas Mark Zuckerberg juga terlihat di lingkungan terdekatnya, Silicon Valley. Pembawa acara Mad Money, Jim Cramer mengatakan bahwa ia sering mengunjungi Silicon Valley dan bertanya kepada orang-orang "Siapa yang tidak kamu sukai?".

Cramer mengatakan jawaban orang adalah Mark Zuckerberg, bukan petinggi Facebook lain seperti Chief Operating Officer Sheryl Sandberg. "Saya berkata, 'Bagaimana dengan Sheryl Sandberg?' Mereka menjawab, 'Tidak, Zuckerberg yang tidak bermain sesuai aturan,'"kata Cramer.

Di sisi lain, Mark Zuckerberg juga makin ikut campur dalam urusan internal perusahaan yang dicaplok Facebook seperti WhatsApp dan Instagram. Kabarnya karena bertikai dengan Mark Zuckerberg, para pendiri kedua perusahaan itu telah memutuskan hengkang.

Yang teranyar Facebook kehilangan Chief Product Officer Chris Cox dan Vice President WhatsApp Chris Daniels. Seperti halnya sebagian petinggi Facebook yang lebih dulu hengkang, Cox dan Daniels dikabarkan meninggalkan Facebook karena berselisih dengan Mark Zuckerberg.

Daniels yang baru jadi bos WhatsApp pada bulan Mei 2018, kabarnya tak senang dengan rencana perusahaan mengintegrasikan platform messaging Facebook Messenger, WhatsApp, dan Instagram. Cox juga digosipkan tidak setuju dengan rencana ini.

Disebut Orang Paling Berbahaya di Dunia

Rencana terkini Mark Zuckerberg adalah mengintegrasikan layanan messenger dari berbagai platform yang dimilikinya yakni WhatsApp, Instagram dan Facebook Messenger.

Hal itu memerlukan penyusunan ulang software ketiganya. Jika sudah selesai, user masih bisa menggunakan masing-masing aplikasi sendiri-sendiri, namun praktis secara teknis, ketiganya berjalan di infrastruktur teknis yang sama dan semuanya dikuasai penuh oleh Mark Zuckerberg.

Ini yang membuatnya disebut 'orang paling berbahaya di dunia' menurut profesor Scott Galloway dari New York University Stern School of Business. "Zuckerberg sedang mencoba untuk mengenkripsi backbone atau inti antara WhatsApp, Instagram dan platform inti, Facebook, sehingga ia memiliki satu jaringan komunikasi 2,7 miliar orang," tutur Galloway.

"Gagasan bahwa kita akan memiliki satu individu yang memutuskan algoritma untuk backbone terenkripsi 2,7 miliar orang itu menakutkan, terlepas dari apapun niat orang itu ya," tambahnya.

Sebelumnya, Chris Hughes yang membantu Mark Zuckerberg mentranformasi Facebook dari proyek di kamar asrama jadi bisnis sungguhan juga kecewa dengan Mark Zuckerberg. Dalam opini di New York Times, Hughes menyatakan Mark Zuckerberg punya kekuasaan yang tidak dikendalikan dan punya pengaruh begitu jauh. Ia mengusulkan agar Facebook dipecah saja.

"Mark adalah orang yang baik. Tapi aku marah bahwa fokus dia soal pertumbuhan membuatnya mengorbankan keamanan dan peradaban demi klik," tulis Hughes.

Ia menganggap dominasi Facebook terlampau besar dengan mengontrol sekitar 80% pendapatan bisnis jejaring sosial dunia. Monopoli itu harus dikendalikan, misalnya dengan memisahkan Facebook dengan WhatsApp dan Instagram.

"Pengaruh Mark luar biasa, jauh dibandingkan siapapun di sektor swasta ataupun pemerintahan. Dia mengendalikan 3 platform komunikasi inti, Facebook, Instagram dan WhatsApp, yang digunakan miliaran orang tiap hari," lanjut Hughes.

Hughes menyarankan pula pemerintah AS menciptakan lembaga khusus untuk mengatur perusahaan teknologi. "Zuck telah menciptakan raksasa yang membatasi pilihan konsumen. Tergantung pemerintah kita untuk memastikan kita tidak kehilangan keajaiban karena ada pengaruh tangan-tangan yang tidak tampak," sarannya.

Artikel ini telah tayang di detik.com dengan judul "Zuckerberg Dulu Dipuja Kini Orang Paling Berbahaya".

SHARE

Related Posts

Comments